BIMBINGAN DAN KONSELING

Juni 26, 2008 amitamit
Tag:

BIMBINGAN DAN KONSELING

MELALUI PENDEKATAN PERKEMBANGAN

Oleh : Nia Dewi Kania S.Psy

 

A.   Kerangka Pemikiran Dasar

Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6). Kesejajaran posisi ini tidaklah berarti bahwa semua tenaga pendidik itu tanpa keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja  Islam mengajarkan mengenai nilai-nilai moral dan etis yang seharusnya mewarisi sistem pendidikan tersebut.  Tersurat dalam firman-Nya ayat al Qur’an yang pertama kali turun, yaitu ayat 1 s.d. 5 surat al ‘Alaq:

إقرأ باسم ربّك الذى خلق. خلق اللإ نسان من علق. إقرأ وربّك الأكرم. الذى علّم بالقلم. علّم اللإنسان مالم يعلم (العلق: 1-5)

Artinya: “Bacalah dengan (mnyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Pada ayat tersebut paling tidak terdapat 5 komponen pendidikan, yaitu guru (Allah), murid (Muhammad SAW), sarana dan prasarana (qalam), metode (iqra’), dan kurikulum.

Pendidikan jika dipandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berakhir saat tercapainya tujuan akhir pendidikan (Ghofir, 1993: 25), dimana telah dinilai dan diyakini sebagai sesuatu yang paling ideal. Pemerintah telah merumuskan tujuan yang ideal untuk  dicapai melalui sebuah proses dan sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 Bab II pasal 3 (2003: 7) : Pendidikan nasional…bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu.

 Bila dikaitkan dengan tujuan pendidikan Islam,  Q.S. al Dzariyat ayat 51 :

وما خلقت الجنّ والإنس إلاّ ليعبدون ( الذاريات : 51)

Artinya : “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembahku”.

 Tugas pendidikan intinya adalah memelihara kehidupan manusia.   

  Dapat ditegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam bila ditinjau dari cakupannya dibagi menjadi tiga yaitu (1) dimensi imanitas, (2) dimensi jiwa dan pandangan hidup Islami (3) dimensi kemajuan yang peka terhadap perkebmangan IPTEK serta perubahan yang ada. Sedangkan bila dilihat dari segi kebutuhan ada dimensi individual dan dimensi sosial (Muhaimin, 1991: 30).

Sedangkan bimbingan dan konseling dalam pendidikan Islam merupakan proses pengajaran dan pembelajaran psikososial yang berlaku dalam bentuk tatap muka antara konselor dengan peserta didik, dalam rangka antara lain memperkembangkan pengertian dan pemahaman pada diri siswa untuk mencapai kemajuan di sekolah. Pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam pendidikan akan efektif dan berhasil apabila dilaksanakan atau dilakukan oleh suatu tim kerja (team work). Dalam kaitan ini, penyelenggaraan Bimbingan Konseling di sekolah harus mendapat perhatian serius agar berjalan secara efektif dalam membantu perkembangan potensi-potensi yang dimiliki siswa secara optimal.

B. Dasar Hukum

Berdasarkan surat keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor 0433/p/1993 dan No. 25/1993, penghargaan jam kerja konselor ditetapkan 36 jam per minggu dengan beban tugas meliputi penyusunan program (dihargai 12 jam), pelaksanaan layanan (18 jam) dan evaluasi (6 jam). Konselor yang membimbing 150 orang siswa dihargai 18 jam, selebihnya dihargai sebagai bonus kelebihan jam dengan ketentuan tersendiri.

            C. ASPEK TEORITIS

C.1.  Perkembangan Individu

Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan, diantaranya :

(1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam    perkembangan individu;

(2) Teori dari Freud tentang psikoseksual;

 Konsep utamanya  mengenai struktur kepribadian yang terdiri dari tiga sistem ID, EGO dan Super Ego

(3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial;   

(4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif;

Perkembangan kognitif manusia terdiri dari 4 tahap :

1. Tahap Sensori-motorik

2. Tahap Preoperasional

3. Tahap operasi kongkret

4. Tahap Operasi Formal

(5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral;

(6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier;

(7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial;

(8) Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa.

Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan.

C.2 Perkembangan Anak

Makna perkembangan pada seorang anak adalah terjadinya

perubahan yang besifat terus menerus dari keadaan sederhana ke keadaan yang lebih lengkap, lebih kompleks dan lebih berdiferensiasi (Berk, 2003). Jadi berbicara soal perkembangan anak yang dibicarakan adalah perubahan, maka perlu dipahami tentang aspek-aspek perkembangan.

 

1. Aspek-Aspek Perkembangan

Perkembangan fisik yaitu perubahan dalam ukuran tubuh, proporsi anggota badan, penampilan, dan perubahan dalam fungsi-fungsi dari sistem tubuh seperti perkembangan otak, persepsi dan gerak (motorik), serta kesehatan.

Perkembangan kognitif yaitu perubahan yang bervariasi dalam

proses berpikir dalam kecerdasan termasuk didalamnya rentang perhatian, daya ingat, kemampuan belajar, pemecahan masalah, imajinasi, kreativitas, dan keunikan dalam menyatakan sesuatu dengan mengunakan bahasa.

Perkembangan sosial-emosional yaitu perkembangan

berkomunikasi secara emosional, memahami diri sendiri, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, pengetahuan tentang orang lain, keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain, menjalin persabatan, dan pengertian tentang moral.

 

2. Periode Perkembangan

 

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan

 

D. ASPEK PRAKTEK

Dijelaskan bahwa dalam praktek penggunaan pendekatan dan teknik konseling dalam menangani anak SD berbeda dengan menangani remaja.

 

 Karakteristik Anak Sekolah Dasar (SD)


Ditandai dengan motivasi memperoleh teman untuk bermain maupun untuk kepentingan belajar serta perkembangan fisik yang unik. Dalam hubungan ini dibahas juga penggunaan karakteristik tersebut dalam pelaksanaan konseling.

 

Bermain bagi anak SD

 Sifat-sifat bermain pada anak SD, fungsi bermain sebagai sarana pengembangan aktualisasi diri, pengelompokkan jenis bermain menjadi permainan alamiah dan permainan yang dipelajari.

 Dunia anak khususnya anak SD.

Hakikat dunia anak, fungsi dunia anak dalam perkembangan anak khususnya perkembangan kepribadian, perbedaan dunia anak dan dunia orang dewasa
 Masalah-masalah anak SD.

Membahas hakikat masalah pada anak SD, dan jenis-jenis masalah anak SD yang perlu dipahami oleh konselor dalam rangka pelaksanaan konseling anak.

Latar belakang masalah anak SD.

Membahas faktor-faktor yang dapat menimbulkan atau memicu masalah-masalah pada anak usia SD yaitu faktor-faktor dalam keluarga dan faktor-faktor sosial.
 

 

Karakteristik Anak Sekolah Menengah Pertama  (SMP)

      Merupakan masa transisi antara masa anak-anak ke masa remaja.

      Keinginan untuk mandiri (termasuk menentukan pilihan sendiri) semakin kuat

      sehingga aturan dari lingkungan yang semula mudah diikuti, menurutnya justru

      mengekangnya dan tidak memberinya keleluasaan untuk mandiri.
      Kesadaran diri pada masa remaja lebih kuat disbanding masa anak-anak termasuk

      penghayatan akan emosinya, sehingga emosi remaja mudah dibangkitkan oleh hal-hal

      yang sebelumnya justru bukan masalah baginya.

      Lingkungan teman sebaya semakin penting bagi seorang remaja, sehingga remaja

      akan memilih aturan teman sebayanya disbanding aturan keluarganya

      Lebih kritis dalam menanyakan nilai-nilai dan norma-norma serta aturan keberlakuan

      lainnya.

      Sangat peka terhadap peristiwa, sesuatu, hal yang terjadi pada dirinya dan tubuhnya,

      terutama dikaitkan dengan perhatian dan upaya menarik perhatian lawan jenisnya.

 

Karakteristik Anak Sekolah Menengah Atas  (SMA)

Proses mencari jati diri dalam diri seorang remaja terutama dalam menerapkan konsep ‘dewasa’

Remaja yang matang lebih awal mudah untuk beradaptasi dan diterima dilingkungan dewasa sehingga dapat mengembangkan dirinya dengan lebih baik. Sedangkan remaja yang terlambat akan diperlakukan seperti anak-anak, kurang fleksibel dalam penyesuaian diri.

Lebih suka menonjolkan ciri khas. Terutama dalam penampilan dirinya.

Kepatutan seks dalam penampilan diri, minat dan perilaku remaja mencapai konsep diri yang baik. Ketidak patutan seks membuat remaja sadar diri dan hal ini menjadi akibat buruk pada perilakunya.

Remaja lebih muda mengidentifikasikan dirinya bila didukungan oleh lingkungan sosialnya.

Lebih berpihak pada kelompok sebayanya.

Cita-citanya sudah mulai realistik dan dissesuaikan dengan potensi serta kemampuan diri dan lingkungan sosialnya.

E. DUA CONTOH PENERAPAN PENDEKATAN PERKEMBANGAN

     DALAM LANDASAN TEORI DAN PRAKTEK

     E.1. Di Lingkungan Bimbingan Konseling Untuk SD

            Contoh Satu.

             

     E. 2. Di Lingkungan Bimbingan Konseling Untuk SMP

      E.3. Di Lingkungan Bimbingan Konseling Untuk SMA

 

 

Daftar Rujukan Pustaka

 

ABKIN. 2007. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan  

               Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal

BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan

              Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta:

              BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas

Hasan Langgulung, Peralihan Paradigma Pendidikan Islam dan Sains Sosial, Jakarta,

              Gaya Media Pratama, 2002

Hauschild, AT & Watterdal, TM (2006) Kompendium: Perjanjian, Hukum dan
     Peraturan Menjamin Semua anak Memperoleh Kesamaan Hak untuk
     Kualitas Pendidikan dalam Cara Inkluisif. IDP Norway:
Jakarta

Hurlock, Elizabeth Bergner, Adolescent Development. Fourth Edition, McGraw-Hill

              Kogakusha Ltd. 1973

Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam : Sebuah Telaah Komponen dasar Kurikulum, Solo,

              Ramadhani, 1991

Patterson, C. H.  Theories of Counseling and Psychotherapy, Fourth Edition, Univercity of North Carolina, Greensboro Univercity of Illinois, Urbana-Champaign. Harper & Row, Publisher, New York 1986

Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung,

              Citra Umbara, 2003

UNESCO (2003) Overcoming Exclusion through Inclusive Approach in Education
              A Challenge and A Vision. Division for Early Childhood and Inclusive
              Education:
Paris

 

Entry Filed under: Uncategorized

One Comment Add your own

  • 1. Rika Kartika  |  Juli 11, 2008 pukul 9:21 am

    Nia, saya mau tanya tentang identitas kamu. namamu mirip sekali dengan nama teman saya. teman saya itu tinggal di bandung sekitar soekarno hatta. lulusannya unisba. itu kamu bukan ya?. saya rika sekarang tinggal di bekasi dulu teman2 mengenal saya dengan riji (rika jilbab). saya pernah aktif di PII. gimana kamu nia yang saya maksud bukan ya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Juni 2008
S S R K J S M
    Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: